Kamis, 03 Februari 2011

Aku dan Dia

Aku dan dia biasanya menghabiskan waktu kami di rumah dengan kesibukan masing - masing. Dia dan buku - buku dan laptopnya, aku dengan anak dan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Sesekali kami duduk dan merokok bersama dan bercerita sedikit tentang kehidupan kami dan cerita yang mungkin satu sama lain belum tahu. Lalu aku sering kali tidur lebih dulu, sementara dia masih melanjutkan malamnya dengan dunianya.

Aku dan dia tidur di ranjang yang sama. Layaknya teman, tanpa sentuhan, tanpa perasaan. Satu - satunya rasa yang kami rasakan mungkin hanya rasa kantuk.

Yang membuatku bersedih adalah kenangan kami. Kenangan masa pacaran kami yang penuh cerita. Penuh cinta dan sesak akan rindu. Dimana kami layaknya Adam dan Hawa yang pertama kali bertemu lawan jenis dengan segala keingin tahuandan eksplorasi. Seperti ladang yang haus akan hujan.

Pertemuan aku dan dia sangat menyenangkan. Di tempat yang sangat nyaman dan tempat kerja yang sempurna. Tempat yang sempurna pula untuk bertengkar, berbaikan dan berbagi hidup.

Aku dan kesalahanku mendua, aku dan keinginanku untuk selalu diinginkan.

Mengapa sekarang kami lupa untuk mengerti? Mengapa aku selalu menuntut dan dia selalu lelah? Apakah pernikahan harus semelelahkan ini?

Aku dan dia dulu menginginkan pernikahan yang santai dan tanpa tekanan. Awalnya kami tidak menekan satu sama lain. Tapi kehidupan dan waktu yang ternyata mengambil peran itu.

Aku dan dia. Kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar